Belajar dari Kasus United Airlines.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengalami kekecewaan terhadap pelayanan GIA, mulai dari pindah ruang tunggu, delay dengan alasan “operasional” yang menurut saya tidak jelas, hingga pramugari yang menumpahkan minuman ke baju saya. Komplain pun sudah saya berikan, mulai dengan mengikuti prosedur komplain GIA hingga memberikan pesan kepada salah satu pejabatnya melalui facebook yang saya ketahui dari salah seorang teman. Namun hingga saat ini, tidak ada permintaan maaf resmi dari pihak GIA (sebagai korporat) yang saya dapatkan. Hanya pramugari yang bersangkutan (saya tidak tahu apakah ini salah satu prosedur penanganan komplain GIA) menelfon saya untuk meminta maaf.

Ternyata kasus ini terulang kembali kepada penumpang di Semarang. Entah apapun alasannya, permasalahan ini sudah menyebar ke situs-situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Well, saya tidak ingin memperpanjang komplain saya dan menjustifikasi sepihak. Saya ingin mencoba sharing sedikit pengetahuan saya tentang bagaimana dampak sebuah komplain yang diabaikan terhadap sebuah perusahaan di era social network seperti sekarang ini. Read more »

Workshop GCG BTN

Foto-foto saat workshop Good Corporate Governance di Bank Tabungan Negara…

Read more »

Apakah SWOT Analysis itu mudah ?

SWOT Analysis adalah salah satu tools analisis untuk melihat kondisi internal dan eksternal perusahaan berdasarkan kekuatan(Strengths), kelemahan (Weaknessess), peluang (Opportunity) maupun tantangan/ancaman (Threats) yang ada. Tools ini adalah tools yang sudah sangat familiar khususnya bagi mereka yang berkecimpung di dunia manajemen. Namun apakah melakukan analisis SWOT pada dunia nyata semudah yang kita bayangkan ? Read more »

Metode Kustomisasi Software pada proyek IT

Pengembangan sistem Informasi atau dalam bahasa awamnya lebih dikenal dengan pengembangan software identik dengan salah satu teori pengembangan software yang dikenal dengan nama SDLC atau Software Development Life Cycle. Read more »

Belajar dari Sepakbola

SOCCER-CHAMPIONS/

Dini hari ini, Rabu25 Februari 2009 saya menyaksikan pertandingan antara Intermilan dengan Manchester United, melalui Televisi. Pertandingan berakhir dengan skor seri tanpa gol. Pertandingan sendiri berlangsung seru, karena kedua tim menunjukkan permainan terbaik mereka guna lolos pada babak selanjutnya di Liga champion.

Namun, indahnya pertandingan sempat “terganggu” dengan komentar-komentar komentator televisi kita, dimana saya merasakan adanya keberpihakan komentator terhadap salah satu klub.

Mungkin tanpa disadari, beberapa kali komentator mengeluarkan pujian kepada salah satu tim, mulai dari permainannya, peluang yang dimiliki, hingga kehandalan pelatihnya – yang disebut pernah berprestasi 5 TAHUN yang lalu. Sementara, tim satunya justru diberikan komentar yang cenderung “memojokkan”. Semua itu menghiasi jalannya pertandingan hingga babak kedua berakhir.

Objektifitas terkadang menjadi suatu yang blurred kala emosi dan primordialisme yang terlalu berlebihan ikut berbicara. Tanpa disadari, ego akhirnya menguasai kejernihan berfikir manusia. Sesuatu yang dianggap sebagai “prestasi” di masa yang sudah jauh lewat, seakan menjadi penentu dan jaminan keberhasilan di masa yang akan datang.

Sepakbola sebenarnya dapat menggambarkan bagaimana dinamika kehidupan kita di dunia ini. Tidak ada yang bersifat absolut. Bahkan kemenangan dan kekalahan pun bergulir silih berganti. Strategi terus berubah, bukan hanya terjadi pada setiap pertandingan, namun hingga detik demi detik berlangsungnya pertandingan dimana sang pelatih harus kritis dalam mengantisipasi munculnya ancaman melalui strategi baru (emerging strategy). Sang pelatih tidak hanya harus rela untuk mendrop strategi yang telah dia persiapkan sebelum pertandingan berlangsung. Bahkan, ia harus rela untuk mengganti pemain kesayangannya atau pemain kuncinya, demi melaksanakan strategi baru tersebut tentunya untuk mencapai kemenangan. Karena dalam sepakbola -bahkan dalam organisasi- kemenangan bukan terletak pada satu pasang kaki, namun terletak pada seluruh pasang kaki tim tersebut.

Ketika David Beckham meninggalkan MU, banyak orang beranggapan bahwa masa kejayaan MU telah berakhir. Begitu pula ketika Juventus menjalani hukuman dengan bermain di divisi B, dimana beberapa pemain kunci terpaksa pindah dari Juve.  Namun, MU dan Juve telah membuktikan bahwa tanpa beckham (ex pemain MU) dan Ibrahimovic (ex pemain Juve), klub tersebut lantas tidak terhempas begitu saja. MU sadar, terlena dengan kejayaan masa lalu tanpa mempertimbangkan perkembangan persaingan liga premier yang semakin ketat hanya akan membuat mereka semakin terpuruk. Memang, pada beberapa musim MU sempat terpuruk, dengan kekalahan demi kekalahan. Namun, saat ini, MU telah membuktikan bahwa mereka memang legenda. Bukan karena beberapa pemain utamanya , namun karena kerja keras dan semangat tim yang selama ini dibangun. So, is only about team work.

Sehingga, saya ingin menekankan pada diri saya sendiri, untuk terus belajar dari kesalahan masa lalu, dan berusaha memperbaikinya di masa yang akan datang. Karena usia dan dewasa -pada beberapa orang- terkadang tidak selalu berjalan linier. (baca : Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan….)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.