Komunikasi Efektif – Membuat Orang Lain Paham Apa yang Kita Pahami

effective commKomunikasi efektif merupakan isu penting dalam suatu organisasi. Banyak organisasi mempertimbangkan aspek komunikasi – baik lisan maupun tulisan – dalam merekrut karyawan baru mereka. Inti komunikasi adalah berbagi ide dan informasi melalui berbagai macam cara. Tentunya, sebelum kita berbagi ide, maka kita (sender) harus memahami informasi yang akan kita berikan (message), bagaimana membungkus informasi tersebut (encoding) agar dapat ditangkap oleh penerima informasi (decoding) melalui berbagai cara, mulai dari tatap muka, pesan singkat hingga melalui telepon (channel). Komunikasi kita akan efektif jika penerima (sender) memahami dan dapat memberikan respon (feedback) atas informasi yang diterimanya.

Terkadang, miskomunikasi sering terjadi karena kegagalan sender dalam memahami informasi yang diberikan atau tidak mampu membungkus dan menggunakan metode yang tepat dalam menyampaikan pesan. Misalnya, seorang manajer information technology (IT) kesulitan meyakinkan manajer keuangan atas manfaat yang akan diterima perusahaan jika menerapkan teknologi A yang nilai investasinya mencapai Miliaran rupiah.

Manajer IT : “Teknologi ini akan dapat memberikan nilai tambah bagi organisasi. Proses bisnis akan menjadi cepat dengan kualitas yang lebih baik. MTTR akan lebih cepat sehingga mampu meningkatkan SLA dan dampaknya akan lebih efisien.”

Manajer keuangan : “Returnnya berapa ?”

Manajer IT : “Ya, tentunya pada awalnya kita akan merasakan intangibel benefit, karena tidak mungkin benefitnya akan didapat secara instan. Tapi kedepan ini akan menjadi competitive weapon bagi perusahaan”.

Manajer keuangan : “Iya, returnnya berapa ? efisiensinya berapa besar ? Return on asset akan meningkat seberapa signifikan ? Dan apa dampaknya bagi earning per share ?”

Manajer IT  & Manajer Keuangan : (sama-sama terdiam)

imagfgfgtesPercakapan diatas bukan tidak mungkin terjadi pada beberapa organisasi. Jika dilihat pada percakapan tersebut, masing-masing berupaya menggunakan bahasa yang mungkin hanya golongannya dan tuhan yang tahu. Manajer IT tidak memahami apa yang dimaksud oleh manajer keuangan, begitu juga sebaliknya. Ini adalah suatu contoh komunikasi yang tidak efektif, dimana pesan yang ingin disampaikan masing-masing tidak tersampaikan dengan baik.

Manajer IT sebagai sender harusnya mampu menggunakan istilah yang lebih familiar bagi manajer keuangan. Bisa saja ia mengatakan bahwa manfaat yang akan dirasakan dengan diterapkannya teknologi ini adalah terjadinya penurunan biaya operasional, misalnya, dari biaya koordinasi dan penggunaan kertas. Selain itu, proses bisnis yang dilakukan lebih cepat akan berdampak kepada waktu untuk menghasilkan produk menjadi lebih cepat, sehingga perusahaan akan lebih cepat mendapatkan cash dibanding tahun sebelumnya. Mungkin jika itu dilakukan, diskusi tersebut tidak akan buntu dan masing-masing akan mendapatkan hasil yang diharapkan.

Perlu dicatat bahwa terdapat perbedaan gaya komunikasi antara tatap muka dengan tertulis, dimana melalui tatap muka sender harus membungkus informasi yang akan diberikan sesingkat dan sejelas mungkin – berbeda ketika komunikasi dilakukan tertulis dimana semua definisi dan istilah dapat dijelaskan secara gamblang – sehingga salah satu cara terbaik adalah menggunakan bahasa dan istilah yang mudah dipahami oleh penerima informasi.

Jadi, tantangan dalam berkomunikasi bukanlah menunjukkan bahwa sender lebih pintar dari receiver, melainkan bagaimana kemampuan sender dalam menyampaikan informasi yang ingin disampaikannya, sehingga receiver dapat memahami dan memberikan feedback atas informasi yang diberikan. Dalam soft skill, hal ini biasanya dapat dipelajari melalui workshop atau seminar tentang efffective communication skills atau kemampuan berkomunikasi secara efektif.

 

Fenomena Pandangan Eksekutif terhadap Masterplan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Instansi Pemerintah

ICTTeknologi informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam membantu instansi pemerintah mengoptimalkan layanan publik yang diberikan. Namun berdasarkan pengalaman saya menangani beberapa instansi pemerintah, TIK masih dipandang sebelah mata dan masih dianggap tidak strategis bagi organisasi. Tulisan kali ini akan membahas bagaimana fenomena pandangan eksekutif terhadap Masterplan TIK bagi instansi pemerintahan. Continue reading

Memahami strategi bisnis melalui bisnis Tahu Gejrot

IMG_4575Tahu Gejrot merupakan makanan khas Cirebon. Makanan ini berbeda dengan makanan sejenis lainnya, dimana bumbu serta cara penyajian yang cukup unik serta rasa pedas yang luar biasa membuat makanan ini cukup banyak digemari, khususnya bagi mereka penyuka makanan pedas. Namun pada tulisan kali ini, saya tidak akan membahas tentang makanan tahu gejrot. Saya akan coba melakukan analisis bagaimana implementasi strategi bisnis pada bisnis sederhana ini.

Sudah beberapa kali saya melewati sebuah warung kecil Tahu Gejrot di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Warung ini merupakan salah satu dari beberapa warung yang terletak di dalam area cuci mobil. Mungkin maksudnya adalah warung-warung ini dapat dijadikan tempat menunggu bagi para pelanggan layanan cuci mobil sembari menikmati makanan yang disajikan. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, namun setelah beberapa kali melewatinya, saya menyadari ada satu warung, yaitu warung “Tahu Gejrot Ragunan Kang Banyu” yang selalu ramai. Bahkan sebagian besar sepeda motor yang parkir disana merupakan pelanggan warung ini – melebihi jumlah mobil atau motor yang dicuci di tempat cuci mobil. Tadinya saya sempat berpikir bahwa mungkin karena hari libur, sehingga para pengunjung kebun raya Ragunan yang berasal dari berbagai tempat menyempatkan untuk mampir sekedar menikmati makanan ringan sembar menunggu macet. Namun ternyata pada hari kerjapun warung ini tetap ramai. Para pelanggannya tidak hanya para pengendara motor, namun juga pengendara mobil dan bahkan masyarakat sekitar yang datang dengan berjalan kaki.

Rasa penasaran akhirnya membawa saya ke warung itu. Hari sabtu sore kemarin, saya mendatangi warung tersebut untuk membeli 3 bungkus tahu Gejrot, sekaligus melakukan observasi untuk menjawab berbagai pertanyaan di benak saya. Ketika saya sampai dan memesan, seketika Kang Banyu – dugaan saya penjualnya bernama Kang Banyu – meminta saya untuk Antri dan berkata “Mas, nanti mas habis mbak yang pake kerudung biru ya. Detail pesanannya nanti saya tanya lagi ke mas setelah saya melayani mbak yang pake jilbab biru itu”. Seketika saya kaget sekaligus terkesima dengan jawaban Kang Banyu tersebut. Ekspresi wajahnya datar dan serius ketika menjawab pesanan saya. Hal serupa dilakukan Kang Banyu kepada pelanggan lainnya yang baru datang. Bahkan, ketika ada pelanggan yang kurang sabar, Kang Banyu tidak terlalu memperdulikannya. Baginya, proses membuat tahu gejrot lebih penting daripada melayani pelanggan yang menggerutu karena panjangnya antrian. 15 menit pertama sudah berlalu, dan pesanan saya pun belum juga dibuat. Entah mengapa saya enggan beranjak dari tempat duduk saya dan memilih untuk tetap menunggu. Saya penasaran, apakah para pelanggan yang menunggu akan semakin berkurang karena tidak sabar. Ternyata, semakin lama justru antriannya semakin panjang, bahkan mencapai kurang lebih 25 antrian. Kang Banyu melakukan semuanya sendiri, mulai dari menerima pesanan, menentuka antrian, membuat pesanan, memberikan pesanan hingga melakukan transaksi pembayaran. Setiap porsi tahu gejrot dibuatnya tersendiri, sehingga ketika ada seorang pelanggan yang memesan 3 porsi tahu gejrot, maka Kang Banyu akan melakukan melakukan 3 kali proses pembuatan. Hal inilah yang menyebabkan antrian cukup panjang. Namun hal yang cukup menarik bagi saya adalah bagaimana Kang Banyu mengatur antrian pelanggan. Kang Banyu tidak membagikan nomor antrian. Kang Banyu cukup melihat urutan pelanggan berdasarkan pelanggan sebelumnya. Luar biasanya adalah bagaimana ia mampu mengingat siapa setelah siapa atas 20 an pelanggan yang mengantri pada waktu yang tidak jauh berbeda,IMG_4567

Jika kita lihat konsep manajemen strategis, sebenarnya Kang Banyu cenderung menerapkan strategi differentiation. Apa yang membedakan tahu gejrot Kang Banyu dengan tahu gejrot lainnya sehingga pelanggan rela antri hingga 1 jam ? Ternyata, rasa tahu gejrotnya memang berbeda dengan tahu gejrot lainnya. Bukan hanya sensasi pedas luar biasa, namun juga penggunaan bumbu serta kuah asam yang pas sehingga terasa enak dilidah. Berdasarkan pengalaman saya, keramahan maupun kecepatan pelayanan  bukanlah kelebihan dari Kang Banyu. Namun proses pembuatan yang sangat teliti dan dibuat satu per satu (proses pengolahan dilakukan untuk setiap satu porsi tahu gejrot) sehingga menghasilkan rasa makanan yang enak merupakan kelebihan yang hampir tidak dimiliki oleh beberapa penjual tahu gejrot di area sekitarnya, bahkan di Jakarta Selatan, tentunya dengan harga yang relatif sama yaitu Rp. 9.000 per porsi (differentiation strategy). Kang Banyu tidak menggunakan strategi pemasaran khusus, ia hanya mengandalkan cerita dari para pelanggannya yang puas dari mulut ke mulut (word of mouth) serta rasa penasaran karena panjangnya antrian dalam menarik minat para pelanggan baru. Loyalitas pelanggan yang terbentuk juga luar biasa. Berdasarkan cerita dari beberapa pelanggan lama yang ikut mengantri dengan saya, ternyata sebelumnya Kang Banyu berjualan di dekat pintu masuk Ragunan. Namun karena tempat tersebut saat ini dilarang untuk berjualan, sehingga Kang Banyu pindah lokasi. Bahkan sebelum berjualan di pintu masuk Ragunan, awalnya Kang Banyu berjualan menggunakan sepeda motor untuk berkeliling menjual tahu gejrotnya. Pelanggan sebenarnya memiliki pilihan untuk mencari tahu gejrot lain, namun ternyata mereka lebih cenderung mencari informasi dimana lokasi tahu gejrot Kang Banyu yang baru.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Kang Banyu cukup logis secara bisnis. Jika kita gunakan logika balanced scorecard, maka keahliannya dalam membuat tahu gejrot (koki yang kompeten) membuatnya dapat mengolah tahu menjadi tahu gejrot dengan proses yang spesifik (operational excellence). Ia tidak perlu proses marketing yang berbelit. Baginya, pelanggan lama akan tetap datang dan pelanggan baru akan terus berdatangan ketika ia bisa menjaga kualitas rasa tahu gejrotnya dari waktu ke waktu (Geurilla Marketing). Baginya memenuhi harapan pelanggan akan rasa tahu gejrot dengan sensasi pedas luar biasa (customer value proposition) akan membuat pelanggan menjadi puas (customer satisfaction). Pelanggan yang puas akan bercerita kepada calon pelanggan lainnya dari mulut ke mulut (word of mouth). Selain itu, pelanggan yang puas juga akan kembali membeli tahunya hingga sampai pada satu titik ketika ia harus berpindah tempat jualan, maka para pelanggan lama tersebut akan mencarinya karena sudah sangat bergantung kepada tahu gejrotnya (customer loyalty). Sehingga, pelanggan lama yang kembali membeli produknya ditambah pelanggan baru yang datang karena cerita pelanggan lama maupun karena penasaran akibat panjangnya antrian akan menyebabkan pendapatannya semakin lama semakin bertambah (revenue growth). Kang Banyu pun dapat mengembangkan bisnisnya suatu saat nanti, mungkin dengan membuka warung permanen, sehingga jangkauan pasarnya menjadi semakin luas dan tentunya, keuntungan yang didapat juga akan semakin besar (business growth).

Sehingga sebenarnya manajemen strategis itu relatif mudah dan dapat dipraktikkan pada bisnis yang sederhana seperti Tahu Gejrot. Konsistensi dan fokus dalam eksekusi strategi tentunya menjadi kunci agar strategi yang diterapkan dapat bekerja dengan baik. Strategi yang baik bukanlah strategi yang diformulasikan dengan berbagai tools yang canggih dan terbaru. Strategi yang baik adalah strategi yang logis dan yang terpenting dapat diterapkan dan dievaluasi secara periodik sebagai suatu pembelajaran.

“Pernah berjaya” dan “tetap berjaya” – pentingnya mempertahankan keunggulan kompetitif

Saya dan keluarga menghabiskan waktu merayakan Idul Adha selama 1 (satu) minggu di kampung halaman ayah saya, Magelang. Sebelum menuju Magelang, saya menyempatkan diri untuk “liburan” bersama keluarga kecil saya di Yogyakarta. Kami menginap di salah satu hotel di kawasan Palagan Tentara Pelajar, Yogyakarta. Hotel ini merupakan impian saya semenjak saya kuliah di Yogyakarta belasan tahun yang lalu. Terbayang bagaimana “kemewahan” yang ditawarkan berupa nuansa alami pedesaan yang dipadukan dengan layanan hotel berbintang akan menjadikan siapapun yang tinggal disana merasa nyaman. Memang sih, harga per malam yang relatif tinggi untuk ukuran Yogyakarta, namun saya merasakan uang yang saya keluarkan sangat sesuai dengan harapan saya terhadap fasilitas dan layanan yang diberikan. Saya tetap dapat menikmati “suasana Yogya” dengan segala keramahannya di dalam hotel, persis seperti belasan tahun yang lalu ketika Kota Yogya belum banyak berubah. Selain itu, lingkungan hotel yang asri, alami dan tertata dengan baik membuat saya enggan untuk berlama-lama keluar meninggalkan hotel. Anak saya dapat bermain dengan riang mengelilingi area hotel, sambil sesekali menikmati andong khas Yogya yang memang disediakan gratis untuk tamu. Bahkan ketika datang, saya sama sekali tidak berada di meja reception untuk check-in. Semua dilakukan oleh petugas hotel yang memang sudah menunggu kedatangan saya, sementara saya menikmati welcome drink di lounge yang telah disediakan. Maka tak heran, walaupun banyak bermunculan hotel-hotel di sekitarnya (bahkan di kota Yogya), namun hotel ini tidak kehilangan pelanggan setianya. Perpaduan antara layanan profesional dan modern dengan nuansa alami Yogya menjadikan keunggulan kompetitif hotel ini sulit disaingi oleh kompetitor, baik hotel baru maupun hotel sekelas lainnya yang telah lama ada. Jika hotel lain banyak menyajikan keunggulan di harga atau fasilitas kamar, maka hotel ini berupaya menciptakan keunikan yang sulit ditemui di hotel lainnya. Hasilnya, berdasarkan pengamatan saya, hotel ini tetap bertahan sebagai salah satu hotel terbaik di Yogyakarta.

Selama di Yogyakarta, saya menyempatkan untuk mengikuti Lava Tour Merapi, suatu paket wisata mengelilingi desa yang terkena bencana gunung merapi tahun 2010. Terakhir saya mengikuti tour ini pada tahun 2011, dimana fasilitas tour masih seadanya dengan harga yang cukup mahal bahkan untuk ukuran Jakarta. Tidak ada yang spesial dalam tour ini saat itu, kecuali mengambil gambar gunung Merapi dari jarak dekat. Namun akhir September 2015 kemarin, ketika saya mengikuti tour yang sama, saya terkesima dengan banyaknya perubahan yang dilakukan, khususnya dalam penawaran paket wisata. Selain harga yang jauh lebih murah, penyelenggara tour (yang merupakan masyarakat desa sekitar) juga menyajikan berbagai paket wisata dengan harga yang variatif tergantung paket yang dipilih. Wisatawan yang berkunjungpun semakin banyak, dan berasal dari berbagai negara di Asia maupun Eropa. Tak heran jika 4 tahun yang lalu hanya terdapat 1 basecamp, saat ini telah terdapat beberapa basecamp yang terkoordinir dengan baik, dengan tarif dan paket layanan yang seragam. Bahkan secara perlahan, wisata ini telah mampu menjadi icon wisata di Yogyakarta. Tentunya berkembangnya wisata ini akan turut serta dalam mengembangkan ekonomi masyarakat sekitar, baik sebagai EO maupun penjual souvenir dan makanan. Perjalanan menyusuri kaki gunung merapi yang sebelumnya membosankan telah berhasil disulap menjadi paket perjalanan yang menantang dan penuh petualangan yang mengasyikkan. Bencana Merapi yang dialami masyarakat sekitar menjadi berkah dan bahkan mampu mengangkat budaya lokal hingga ke mancanegara.

Setelah selesai mengikuti lava tour, saya berhenti di suatu rumah makan favorit saya – paling tidak sampai beberapa tahun yang lalu. Rumah makan ini menyajikan makanan yang enak, variatif dengan tempat makan berupa saung diatas kolam ikan dan dikelilingi oleh sawah. Suasananya sejuk dan damai, sehingga mampu menambah kenikmatan makan. Namun saya terkejut ketika melihat rumah makan ini minggu lalu. Saung yang sudah tidak terawat dengan kolam ikan yang kotor serta suasana sawah yang tidak lagi asri. Banyak menu yang tertulis namun tidak tersedia dengan alasan habis. Puluhan saung yang adapun hanya terisi 1 atau 2 saja. Rumah makan yang biasanya selalu ramai ini seolah menjadi “prasasti” yang menggambarkan sisa masa kejayannya. Saya sempat bertanya kepada beberapa pelayana mengapa ini semua bisa terjadi, dan mereka menjawab hal ini terjadi karena semakin lama semakin sedikigt pelanggan yang datang. Penyebabnya adalah tidak adanya inovasi menu maupun layanan yang diberikan sehingga pelanggan menjadi jenuh. Terlebih lagi adanya beberapa rumah makan baru yang bermunculan menyebabkan pelanggan mereka pindah ke kompetitor. Rasa makananpun berubah, tidak seenak dulu. Sehingga kelezatan hidangan dan kenyamanan suasana rumah makan tidak saya dapatkan sesuai harapan saya. Sebelum saya pulang, saya sempat melihat suasana dapur yang sepi dari aktifitas. Terlihat beberapa koki saling berbincang dan bercanda santai di sisi dapur. Saya sangat menyayangkan hal ini, mengingat rumah makan ini pernah berjaya beberapa belas tahun yang lalu dan selalu menjadi pilihan wisatawan untuk bersantap siang maupun malam.

Setelah menghabiskan 3 hari di Yogyakarta, saya beranjak ke Magelang. Disana saya menginap di salah satu hotel yang menyediakan kamar dengan pemandangan gunung dan sawah yang menarik. Selain itu, lokasi kamar yang berbukit juga mampu menjadi daya tarik wisatawan, dimana hal ini pernah menjadi keunggulan kompetitif hotel tersebut. Namun saya terkesima ketika merasakan pelayanan di hotel ini. Suasana alami tidak lagi saya temukan disana. Justru kesan seram yang saya dapatkan hingga anak dan istri saya tidak bisa tidur nyenyak pada malam pertama kami bermalam disana. Suasana alami tak ubahnya seperti “kebun binatang” mini, dimana laba-laba besar, semut dan kecoak kecil hilir kami jumpai di kamar mandi maupun di kamar tidur. Setiap malam saya selalu cemas akan ganggungan binatang tersebut, apalagi jika membayangkan kalau binatang tersebut sampai menggigit anak saya yang baru berusia 2 tahun. Hotel ini memang masih cukup ramai, namun tidak seramai 4 tahun yang lalu ketika saya berkunjung kesini. Tak banyak yang dapat saya sampaikan kepada customer care hotel ini, karena saya tidak memiliki rencana lagi untuk menginap disini. Hotel yang dulu berjaya dan terkenal di Magelang namun dengan harga dan pelayanan seperti ini, menurut saya akan sulit untuk bersaing dengan hotel-hotel baru yang modern dan tentunya bebas dari gangguan binatang.

“Pernah berjaya” atau “masih berjaya” memang merupakan pilihan manajemen organisasi, apakah masih ingin terus melanjutkan kejayaannya dengan membangun inovasi dalam membentuk keunggulan kompetitif, atau pasrah dengan perubahan yang terjadi. Intinya, mempertahankan keunggulan kompetitif bukanlah pekerjaan yang mudah.  Tidak ada keunggulan kompetitif yang abadi, seiring berubahnya lingkungan dan kebutuhan pelanggan. Sehingga memperbaharui keunggulan kompetitif menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam memenangkan persaingan saat ini maupun di masa yang akan datang.

Perkembangan Gojek dan bisnis ojek online

86gojek-berita-dunesia-berita positif dan berimbang Ilustrasi-Blue-Jek-300x150 GRABBIKE-BANGKOK

Tren ojek online mengalami peningkatan beberapa tahun belakangan ini seiring meningkatnya kebutuhan akan moda transportasi yang cepat di Jakarta. Kemudahan dan kecepatan waktu pesan ojek via aplikasi serta kecepatan waktu tempuh (travel time) menjadi faktor kunci banyaknya peminat ojek online. Selain itu, kepastian dan murahnya tarif menjadi daya tarik yang mampu memikat ribuan masyarakat untuk beralih ke moda transportasi ini.

Pertama kali saya mengetahui ojek online adalah ketika menghadiri suatu acara yang memaparkan ide bisnis kreatif yang diadakan salah satu bank besar di Indonesia pada tahun 2012. Pada acara tersebut, saya terkesima dengan konsep Gojek yang mencoba mengkoordinir para tukang ojek di Jakarta untuk melayani pelanggan pada cakupan area yang lebih luas. Saat itu Gojek belum menyediakan aplikasi untuk melayani pelanggan, masih terbatas pada layanan via telepon maupun sms. Melalui call center, gojek mencoba menghubungkan pelanggan dengan driver (tukang ojek) baik untuk pengiriman barang maupun untuk jasa transportasi. Strategi diversifikasi ini cukup berhasil dalam menarik minat pelanggan, dimana gojek menawarkan suatu layanan pengiriman barang dan transportasi ojek untuk segmen pasar masyarakat jakarta yang membutuhkan kecepatan (baik pengiriman dokumen maupun transportasi) ditengah kemacetan ibukota. Inovasi ini cukup menarik mengingat sebelumnya, misalnya, pengiriman barang paling cepat adalah layanan antar 1 hari untuk paket, sementara Gojek dapat memenuhinya dalam hitungan jam. Begitu juga dengan transportasi, dimana biasanya pelanggan yang mencari ojek i panggalan terdekat, maka dengan Gojek pelanggan cukup menghubungi Gojek dan driver akan menjemput di tempat pelanggan berada.

Ide untuk menjadi “broker” ojek di Jakarta inilah yang membuat saya tertarik untuk mencoba dan melihat perkembangannya dari waktu ke waktu. Pengembangan demi pengembangan dilakukan hingga saat ini Gojek telah memiliki mobile application yang dengan mudah dapat dioperasikan pada iPhone saya. Layanan yang ditawarkan juga semakin beragam, dari transportasi (ojek), pengiriman barang hingga pesan-antar makanan (Go-food). Penggunaan mobile application untuk Gojek tentunya merubah model bisnis Gojek. Revenue stream Gojek tidak lagi hanya berasal dari pelanggan, namun Gojek juga bisa mendapatkan revenue dari provider data. Permintaan pun terus meningkat ditandai dengan jalanan Jakarta yang dibanjiri oleh Armada Gojek.

Prospek bisnis ojek online ternyata menarik minat beberapa investor untuk mengikuti jejak Gojek. Beberapa waktu belakangan ini muncul berbagai “broker” ojek secara online, seperti Grab Bike dan yang terbaru dalah Blu-Jek. Munculnya pesaing bagi Gojek tentunya akan memberikan pilihan lebih banyak kepada pelanggan sehingga daya tawar pelanggan (bargaining power of consumer) meningkat. Perang harga pun tak dapat lagi dihindari. Gojek dengan promo tarif Rp. 15.000 (kemudian turun menjadi 10.000) dan Grab Bike dengan promo awal Rp. 5.000 (kemudian naik menjadi Rp. 10.000), serta Blu-Jek yang menawarkan layanan gratis (freemium) selama 30 hari pertama operasi. Faktor kunci keberhasilanpun menjadi berubah seiring meningkatnya persaingan di industri ini. Harga menjadi faktor kunci utama dalam memenangkan persaingan dan pelanggan pun menjadi sensitif terhadap harga. Uniknya, kecepatan respon serta keramahan driver juga menjadi faktor kunci yang tak kalah penting untuk mempertahankan pelanggan.

Tanpa disadari, bisnis ojek online ini mulai mengancam keberadaan transportasi publik lainnya, mulai dari angkutan umum hingga taksi. Bahkan tukang ojek pangkalan pun mulai merasa terganggu dengan kehadiran ojek online ini. Hal ini ditunjukkan dengan adanya beberapa daerah “Gojek dilarang masuk”. Padahal jika dilihat dari sisi bisnis, menjadi peserta Gojek justru berpotensi untuk mendapatkan pendapatan lebih besar. Berdasarkan survey kecil yang saya lakukan, 1 (satu) orang tukang ojek tradisional rata-rata mengantongi Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000 sebulan, dengan segmen pasar yang dilayani adalah pelanggan dengan radius 100 m hingga 2 km dari pangkalan. Sedangkan pendapatan yang sama bisa didapatkan driver Gojek hanya dengan bekerja selama 1 (satu) minggu. Jadi jika tukang ojek tradisional mengandalkan value of transaction dengan basis tarif berdasarkan kira-kira, maka driver gojek lebih mengandalkan volume of transaction dengan basis tarif per km yang jelas (bahkan flat saat masa promosi). Investasi smartphone Android yang dilakukan diawal juga dapat kembali dalam waktu 1 bulan. Sehingga hal ini dapat menjadi solusi dalam meningkatkan pendapatan para tukang ojek. Sebenarnya, strategi ini cukup ampuh untuk digunakan dalam mengatasi masalah kesenjangan ekonomi dan bahkan mampu menekan angka pengangguran khususnya di DKI Jakarta. Namun hal ini tentunya bergantung kepada Pemda setempat, apakah tetap “keukeuh” menggunakan UU yang ada untuk “membunuh” kreatifitas anak bangsa ini, atau justri dengan bijak melakukan amandemen terhadap UU yang ada dan mendorong agar bisnis serupa dapat semakin meningkat.

Tantangan yang perlu dihadapi oleh para investor khususnya Gojek sebagai pionir adalah bagaimana mempertahankan kualitas layanan dan memenangkan persaingan tanpa terjebak dengan perang harga yang justru akan membuat bisnis ini kedalam red ocean. Inovasi menjadi kunci penting dalam mengembangkan layanan dalam menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan, sehingga menerapkan transcient competitive advantage strategy bisa jadi salah satu cara untuk dapat bertahan dan memenangkan persaingan. Transcient competitive advantage strategy merupakan strategi yang diterapkan dengan menganggap persaingan tidak harus berada pada satu industri yang sama namun dapat lintas industri (arena) sehingga memberikan ruang yang cukup luas untuk inovasi. Competitive advantage dalam konsep transcient competitive advantage strategy mengasumsikan tidak ada keunggulan yang bertahan selamanya, sehingga mengelola gelombang demi gelombang competitive advantage menjadi tantangan dalam penerapan strategi ini.

Akankah Gojek tetap bertahan dalam persaingan yang semakin ketat ? Akankah layanan ini akan tetap ada dengan kualitas yang sama pada 5 sampai 10 tahun kedepan ? Mari kita lihat bersama kepiawaian masing-masing perusahaan dalam mempertahankan bisnisnya.

Indikator Kinerja Utama (IKU) dan dampaknya terhadap organisasi

Indikator Kinerja Utama (IKU) dalam balanced scorecard merupakan ukuran keberhasilan pencapaian sasaran strategis.  IKU inilah yang sebenarnya berperan dalam merubah sesuatu yang bersifat normatif (sasaran strategis) menjadi definitif, terukur dan realistis. Menentukan IKU sepertinya memang pekerjaan yang tidak terlalu sulit, terlebih jika tim yang melakukan penyusunan telah memahami substansi dari sasaran strategis yang disusun. Namun pengalaman saya dalam memandu maupun mengerjakan balanced scorecard khususnya di instansi pemerintahan membuktikan bahwa merumuskan IKU bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Umumnya permasalahan bukan terletak pada apa IKU dari suatu sasaran strategis, melainkan apa IKU yang sebaiknya digunakan dan disepakati bersama untuk dijalankan, tentunya dengan segala dampak yang akan ditimbulkannya. Continue reading

Balanced Scorecard untuk Institusi Pemerintah

Reformasi Birokrasi pada institusi pemerintah telah bergulir semenjak tahun 2005. Pada gelombang kedua reformasi birokrasi tahun 2010 – 2014 ini, salah satu fondasi yang perlu diperbaiki adalah sistem manajemen kinerja pemerintah dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Namun, bagaimana penerapannya ? lantas apa peran balanced scorecard dalam pengelolaan kinerja pemerintah ? Continue reading