KNOWLEDGE VS CONFIDENCE…

Ketika saya menyelesaikan studi S1 saya di Jogjakarta, ada slogan (atau kalau boleh disebut sebagai motto) “Wong bejo ki ngalahi wong pinter” yang artinya orang pintar dapat dikalahkan oleh orang yang beruntung… sekilas saya menganggap hal tersebut hanyalah banyolan orang-orang frustasi karena terancam DO dan tidak mau berusahan untuk memperbaikinya, sehingga hanya berharap pada datangnya keberuntungan.

Terkadang seseorang bertanya kepada anda “Apakah anda cukup PD dalam melakukan hal ini?” atau “Apakah anda memiliki kapabilitas yang cukup untuk melakukannya ?”. Lalu, mana yang lebih baik, menjadi orang PD yang memiliki sedikit pengetahuan, atau menjadi orang berpengetahuan tanpa kepercayaan diri yang cukup ?

Kalo coba kita terapkan teori portfolio dan mengklasifikasikan hubungan antara confidence (PD) dengan knowledge (pengetahuan) maka hasilnya akan seperti ini:

gambar 1STARS

Beruntunglah bagi mereka yang memiliki kelebihan ini, dimana tingkat pengetahuan tinggi dan tingkat kepercayaan diri pun tinggi. Mereka yang memiliki kedua hal tersebut biasanya menjadi “superstar” di lingkungan manapun dia berasa. Inilah kategori orang yang pintar dan cerdas menurut saya. Pintar karena dia menguasai bidang keilmuan secara mendalam dan cerdas karena mengetahui bagaimana memanfaatkan kepintaran tersebut.

Pekerja Ulung

Bagi mereka yang memiliki kepercayaan diri yang berlebih, namun dengan pengetahuan yang rendah, dapat dikategorikan sebagai pekerja ulung. Mereka tidak perlu berfikir berat, selalu menjadi good follower cocok bekerja pada level operasional / teknis.

Orang-orang seperti ini sering mengalami keberuntungan, dimana rendahnya pengetahuan yang dimiliki dapat ditutupiny dengan baik melalui rasa percaya diri yang tinggi. Orang akan percaya dengan apa yang dikatakannya, walaupun belum tentu yang dikatakannya itu benar (terutama dari sisi pengetahuan). Namun, kelebihan itu dapat menjadi bumerang bagi mereka yang masuk kategori ini ketika berhadapan dengan seseorang yang memiliki pengetahuan yang jauh lebih tinggi dari mereka. Rasa percaya diri itu perlahan akan menurun dan akhirnya mereka akan tampak bodoh didepan orang-orang yang lebih pintar dari mereka.
Mereka yang berada pada kategori ini tidak cocok jika menjadi pemimpin. Kepercayaan diri yang berlebih akan membentuk arogansi sehingga akan menciptakan kesalahan terstruktur yang dapat terjadi secara terus menerus.

Namun, bukan hal yang sulit bagi mereka yang berada di kategori ini untuk dapat menjadi bintang, sebab orang yang memiliki kepercayaan diri lebih “biasanya” adalah orang-orang yang cerdas, sehingga mereka tidak akan membiarkan dirinya terlihat bodoh didepan orang lain. Motivasi ini biasanya yang membuat sebagian dari mereka untuk mengupgrade pengetahuan yang dimilikinya melalui lembaga pendidikan formal, informal maupun belajar dari pengalaman (learning by doing).

Thinker

Mereka yang masuk kategori ini biasanya cenderung menjadi “katak dalam tempurung”. Mereka memiliki pengetahuan yang luar biasa tinggi, namun memiliki rasa percaya diri yang sangat rendah. Menurut saya mereka yang masuk kategori ini adalah orang yang pintar namun tidak cerdas. Pintar karena mereka menguasai bidang keilmuannya dengan baik. Tidak cerdas karena argumentasi mereka dapat dikalahkan dengan mudah oleh orang-orang yang memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi walaupun dengan pengetahuan yang lebih rendah.

Tidak seperti pekerja ulung, mereka yang masuk kategori thinker agak kesulitan dalam meningkatkan kepercayaan dirinya. Kebiasaan serta pekerjaan mereka cenderung membenamkan rasa percaya diri yang mereka miliki.

Looser

Untuk kategori ini tidak perlu ada penjelasan lebih detail tentang mereka (mengingat biasanya mereka yang masuk kategori ini masuk dalam list PHK)

Lalu, mana yang lebih baik ? tentunya adalah bintang. Namun, melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa knowledge tanpa didasari confidence akan sia-sia. Saya berargumen pentingnya rasa percaya diri dalam menghadapi hidup, terutama bagi mereka yang ingin menjadi orang cerdas yang pintar….

salam

4 Responses

  1. pak henry pak henry,

    first of all,
    gw setuju sih dengan klasifikasi lo, tapiii..
    seperti halnya pada matrix McFarlan di mana aplikasi yang sama bisa berada pada quadran yang berbeda tergantung organisasinya.. begitu juga orang bisa berada pada quadran yang berbeda, tergantung kompetensi dan lingkungan yang dia pilih.

    so i think the most important (and hardest) part is to identify what your best-at is and find the environment where you could make the best out of that, then confidence will come along naturally.

    btw, nice blog.. gutlak!🙂

  2. Tapiiii… (minjem istilahnya Anna, hihihi) ^^
    Kebanyakan orang jg tidak paham best-at, atau kompetensinya, bahkan bagaimana mengidentifikasinya. Nah lho…. –“

  3. To: Anna Van Houten
    thanks for your comment…
    gw sependapat dengan lo, bahwa memang orang yang sama pada organisasi yang berbeda bisa berada pada kuadran yang berbeda pula. Hal inilah yang menjadi salah satu keterbatasan DISC assessment (behavioral assessment), dimana hasil uji DISC pada diri seseorang bisa saja berbeda jika terjadi perubahan pada lingkungan kerjanya.. manusiawi…
    gw cuma mau berargumen disini bahwa meningkatkan PD itu gak sesulit meningkatkan knowledge. Knowledge bisa didapatkan di “gudang” ilmu manapun, secara virtual ataupun tidak. The problem is… kalo seseorang memang dasarnya memiliki rasa percaya diri yang rendah, sepintar apapun dia, akan sulit baginya untuk menumbuhkan rasa percaya diri itu…
    .. Karena terkadang, orang yang kita anggap pintar ternyata biasa aja setelah lama kita mengetahui tentang dirinya.. bedanya, dia punya kepercayaan diri lebih sehingga “terlihat” pintar…

  4. Buat Deita….
    Gw yakin setiap orang tau dimana sebenarnya kompetensinya (kecuali orang yang blm pernah terjun dalam dunia nyata).. karena setiap kejadian atau pengalaman yang dia alami akan semakin menyadarkan dan mempertajam dimana sebenarnya kompetensi dia….
    Masalahnya, gak semua orang menyadari kalo memang itu yang menjadi kompetensinya…
    Menurut gw, cara mengidentifikasinya adalah dengan melihat bagian pekerjaan mana yang paling disukainya, dimana dia “merasa” mendapatkan hasil optimal pada pekerjaan tersebut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: