PERPADUAN ANTARA SENI DAN STRATEGI

dsc002982

Beberapa hari yang lalu ruangan kerja yang saya tempati tak lagi hampa seperti biasa. Ya, hari ini “Laskar Smart” – sebutan saya bagi tim konsultan kami – diperkuat oleh dua orang yang tergabung dalam satu divisi, multimedia consultant. Fauzi namanya… Beserta Wisnu “tangan kanan”nya, kami bekerjasama dalam memenuhi keinginan klien kami. Sosoknya sederhana, mudah akrab dan suka bercanda. Namun dibalik itu semua, mereka berdua memiliki keahlian yang “unik” menurut saya. Sesuatu yang tidak pernah bisa saya lakukan dalam dunia nyata ini. SENI!.

Lalu, mengapa consultan memerlukan sentuhan seni ? Sebenarnya semua itu tak lebih dari kemasan yang coba kami tawarkan kepada klien kami. Beberapa kali kami menemukan tipe klien yang cukup kritis dengan maslaah satu ini. Mereka tidak cukup terpuaskan hanya dengan solusi. Terkadang kemasan yang baik dapat mempengaruhi kepuasan mereka, walaupun saya belum pernah membaca penelitian tentang itu. Mari kita lihat beberapa contoh tentang itu.

Akhir-akhir ini kita sering melihat iklan salah satu produk telekomunikasi di Indonesia. Sekilas produk yang mereka tawarkan tidak jauh berbeda dengan produk yang ditawarkan pesaing mereka. Namun, content iklan yang mereka pasang dikemas sedemikian rupa sehingga menimbulkan daya tarik tersendiri bagi yang menyaksikannya. “Hallo, agus agus….” salah satu kalimat dalam iklan tersebut. Intinya adalah bagaimana perusahaan telekomunikasi tersebut -sebut saja PT.X- ingin meyampaikan pesan kepada kita bahwa mereka menawarkan harga yang kompetitif untuk sambungan langsung ke luar negeri, hanya Rp.xxx per menit. Konsep strategi generik yang digunakan -seperti kebanyakan perusahaan telekomunikasi lain di Indonesia- adalah sama,  cost leadership. Namun, kemasan iklan yang mereka pasang lah yang membedakan PT. X dengan para pesaingnya. Masyarakat jadi familiar dan mudah mengingat tawaran ini.

Sehingga pada contoh diatas dapat kita simpulkan bahwa ada perpaduan antara strategi dengan seni, dimana strategi berbicara pada bagaimana memenangkan kompetisi dengan merebut hati pelanggan untuk berpindah produk, dan seni yang mengemas sedemikian rupa sehingga strategi tersebut (atau produk tersebut) sekilas terlihat berbeda. Ada value add yang ditawarkan disana sebagai keuntungan tersendiri bagi para konsumen PT.X.

Fakta ini juga sekaligus menjawab kebingungan saya tentang judul sebuah buku “the art of war” karangan Sun Tzu. Buku itu berbicara tentang strategi dalam berperang. Yang mengherankan adalah mengapa si pengarang menggunakan kata “art” ? Ya, strategi ternyata tidak dapat dipisahkan dari seni. Bahkan menurut pendapat pribadi saya, strategi adalah sebuah seni (kreatifitas) dalam menentukan langkah-langkah untuk mencapai suatu tujuan tertentu…

Mudah-mudahan, saya, fauzi, wisnu dan Mr. Sofyan dapat membuktikan itu semua…

Pembelajaran lain…
Kolaborasi dan sinergi yang baik antar anggota tim akan dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa…
Dimana perpaduan antara strategi dan seni akan menjadi bagian penting bagi kami dalam mewujudkan visi dan misi perusahaan kami…

Welcome aboard Fauzi and Wisnu,
Lets prove this hipothesis….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: