Belajar dari Sepakbola

SOCCER-CHAMPIONS/

Dini hari ini, Rabu25 Februari 2009 saya menyaksikan pertandingan antara Intermilan dengan Manchester United, melalui Televisi. Pertandingan berakhir dengan skor seri tanpa gol. Pertandingan sendiri berlangsung seru, karena kedua tim menunjukkan permainan terbaik mereka guna lolos pada babak selanjutnya di Liga champion.

Namun, indahnya pertandingan sempat “terganggu” dengan komentar-komentar komentator televisi kita, dimana saya merasakan adanya keberpihakan komentator terhadap salah satu klub.

Mungkin tanpa disadari, beberapa kali komentator mengeluarkan pujian kepada salah satu tim, mulai dari permainannya, peluang yang dimiliki, hingga kehandalan pelatihnya – yang disebut pernah berprestasi 5 TAHUN yang lalu. Sementara, tim satunya justru diberikan komentar yang cenderung “memojokkan”. Semua itu menghiasi jalannya pertandingan hingga babak kedua berakhir.

Objektifitas terkadang menjadi suatu yang blurred kala emosi dan primordialisme yang terlalu berlebihan ikut berbicara. Tanpa disadari, ego akhirnya menguasai kejernihan berfikir manusia. Sesuatu yang dianggap sebagai “prestasi” di masa yang sudah jauh lewat, seakan menjadi penentu dan jaminan keberhasilan di masa yang akan datang.

Sepakbola sebenarnya dapat menggambarkan bagaimana dinamika kehidupan kita di dunia ini. Tidak ada yang bersifat absolut. Bahkan kemenangan dan kekalahan pun bergulir silih berganti. Strategi terus berubah, bukan hanya terjadi pada setiap pertandingan, namun hingga detik demi detik berlangsungnya pertandingan dimana sang pelatih harus kritis dalam mengantisipasi munculnya ancaman melalui strategi baru (emerging strategy). Sang pelatih tidak hanya harus rela untuk mendrop strategi yang telah dia persiapkan sebelum pertandingan berlangsung. Bahkan, ia harus rela untuk mengganti pemain kesayangannya atau pemain kuncinya, demi melaksanakan strategi baru tersebut tentunya untuk mencapai kemenangan. Karena dalam sepakbola -bahkan dalam organisasi- kemenangan bukan terletak pada satu pasang kaki, namun terletak pada seluruh pasang kaki tim tersebut.

Ketika David Beckham meninggalkan MU, banyak orang beranggapan bahwa masa kejayaan MU telah berakhir. Begitu pula ketika Juventus menjalani hukuman dengan bermain di divisi B, dimana beberapa pemain kunci terpaksa pindah dari Juve.  Namun, MU dan Juve telah membuktikan bahwa tanpa beckham (ex pemain MU) dan Ibrahimovic (ex pemain Juve), klub tersebut lantas tidak terhempas begitu saja. MU sadar, terlena dengan kejayaan masa lalu tanpa mempertimbangkan perkembangan persaingan liga premier yang semakin ketat hanya akan membuat mereka semakin terpuruk. Memang, pada beberapa musim MU sempat terpuruk, dengan kekalahan demi kekalahan. Namun, saat ini, MU telah membuktikan bahwa mereka memang legenda. Bukan karena beberapa pemain utamanya , namun karena kerja keras dan semangat tim yang selama ini dibangun. So, is only about team work.

Sehingga, saya ingin menekankan pada diri saya sendiri, untuk terus belajar dari kesalahan masa lalu, dan berusaha memperbaikinya di masa yang akan datang. Karena usia dan dewasa -pada beberapa orang- terkadang tidak selalu berjalan linier. (baca : Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan….)

2 Responses

  1. MU & Juventus masih terus bisa berjaya walau pun ditinggal pemain2 hebatnya karena MU & Juventus punya pemimpin yang hebat, yaitu Pelatihnya. Tanpa itu mereka tidak akan pernah hebat.

    Salam.

  2. Setuju pak dewo… pelatih memang berpengaruh…

    tapi sayangnya pelatih gak ada di tengah lapangan dan gak mencetak gol.. jadi, sehebat apapun pelatihnya, menurut saya, gak ada gunanya juga kalo gak bisa bekerjasama dengan baik dengan timnya….

    So, its about team work…
    success for you in the future endeavor…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: