Metode Kustomisasi Software pada proyek IT

Pengembangan sistem Informasi atau dalam bahasa awamnya lebih dikenal dengan pengembangan software identik dengan salah satu teori pengembangan software yang dikenal dengan nama SDLC atau Software Development Life Cycle. Menurut teori tersebut, tahapan pengembangan software dibagi menjadi 4 (empat) tahap, yaitu ( Dennis et al, 2005):
1. Fase Planning
Fase ini merupakan tahapan yang fundamental dari pengembangan sistem informasi. Fase ini akan menjawab pertimbangan-pertimbangan mengapa sistem informasi tersebut perlu dibangun (why) serta menentukan bagaimana tim pengembangan sistem informasi akan mengembangkan sistem informasi tersebut. Hal yang dilakukan fase ini diantaranya adalah:
a. Membuat System Request
b. Melakukan feasibility study
c. Membuat rencana pelaksanaan proyek (Project Plan)

2. Fase Analysis
Fase ini akan menjawab pertanyaan tentang siapa yang akan menggunakan sistem ini (who), apa yang harus dapat dilakukan oleh sistem ini (what) serta dimana dan kapan sistem ini akan digunakan (where and when). Ada 3 langkah yang dilakukan pada fase ini, yaitu:
a. Melakukan analisa strategi pengembangan
b. Melakukan pengumpulan requirement (requirement gathering)
c. Membuat system proposal

3. Fase Design
Fase ini akan menentukan bagaimana sistem akan beroperasi dalam konteks hardware, software, infrastruktur jaringan komputer, menentukan user interface, form dan report serta program, database dan file-file tertentu yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem informasi. Pada fase ini akan dilakukan 4 langkah, yaitu:
a. Mengembangkan design strategy
b. Menentukan basic architecture design
c. Menentukan spesifikasi database dan file untuk menentukan tipe data yang akan disimpan dan dimana data tersebut akan disimpan.
d. Menentukan program design

4. Fase Implementation
Fase ini merupakan fase inti dari keempat fase diatas, dimana pada fase ini tim proyek akan melakukan pembangunan dan verifikasi sistem informasi yang dibangun sesuai dengan scope yang sudah ditentukan pada ketiga fase sebelumnya. Pada beberapa proyek pengembangan sistem informasi, fase ini merupakan fase yang menghabiskan biaya paling banyak dibanding ketiga fase sebelumnya. Fase ini memiliki 3 langkah, yaitu:
a. System construction
b. Installation
c. Establish support plan

Namun permasalahannya adalah bagaimana metode yang tepat untuk kustomisasi software ? Apakah metodologi SDLC tepat untuk digunakan ?

Pada prinsipnya, SDLC dapat digunakan sebagai dasar dalam pengerjaan kustomisasi software, hanya ada beberapa hal yang perlu dimodifikasi dari metodologi ini.

Pada kustomisasi software, ada 3 (tiga) fase yang harus dilalui, dimana pada akhir masing-masing fase mengandung milestones yang akan menentukan keberhasilan proses kustomisasi software yang dilakukan.

1. Fase System Planning

Pada fase ini dilakukan analisis gap untuk melihat sejauh mana perbedaan antara business process yang saat ini berjalan dengan alur sistem yang terdapat pada software. Langkah ini penting dilakukan untuk menentukan sejauh mana kustomisasi sistem akan dilakukan. Milestone dari fase ini adalah verifikasi alur proses sistem yang akan di kustom.

2. Fase System Design

Fase ini merupakan lanjutan dari fase sebelumnya. Setelah Kita mengetahui sejauh mana kustomisasi alur proses sistem yang akan dilakukan, selanjutnya ditentukan desain kustomisasi sistem yang dibutuhkan berdasarkan kustomisasi alur proses pada fase 1. Desain kustomisasi sistem pada dasarnya bukan desain sistem yang memerlukan banyak diagram untuk dapat mengembangkannya. Karena pada prinsipnya kustomisasi adalah modifikasi dari sistem yang sudah ada, sehingga sebisa mungkin tidak dilakukan perubahan mendasar pada struktur database, cukup menambah atau mengurangi field dan atau penambahan beberapa tabel yang dibutuhkan. Sehingga untuk tahap ini, activity diagram dan class diagram (ER-Diagram) sudah cukup untuk membuat desain kustomisasi sistem untuk dapat dikustom oleh programmer. Selain itu, perlu juga dilakukan analisis kesesuaian laporan yang sudah ada pada sistem baru dengan kebutuhan laporan pada sistem yang akan di kustom. Perbedaan pada report analysis ini biasanya terletak pada format laporan dengan catatan sistem baru yang akan di kustom dibangun berdasarkan business process pada industri yang telah dibuat generik. Milestone pada fase ini adalah verifikasi area kustomisasi yang akan dilakukan. Verifikasi ini sekaligus menentukan scope project kustomisasi yang tentunya akan berpengaruh terhadap biaya dan waktu pengerjaan. Sehingga, untuk memastikan project ini berhasil, maka fase 1 dan 2 ini menjadi critical success factor bagi manajemen proyek.

3. Fase Implementation

Fase terakhir adalah implementasi, dimana pada fase ini akan dilakukan kustomisasi software berdasarkan alur proses dan desain yang telah didefinisikan pada fase 1 dan 2. Setelah itu pada fase ini juga akan dilakukan software testing dan bugs fixing untuk memastikan kualitas output proyek sesuai dengan kebutuhan user, kemudian diakhiri dengan Go-Live yang menandakan software sudah siap dipakai.

Melihat 3 fase diatas, metodologi kustomisasi software terkesan mudah untuk dikerjakan. Namun pada prakteknya, kustomisasi software tidak jarang berujung pada kegagalan, dimana waktu pelaksanaan proyek yang molor dan akan berimbas pada biaya atau kualitas output dari proyek tersebut. Beberapa penyebab dari kegagalan tersebut diantaranya:

1. Alur proses sistem yang masih terus berubah walaupun sudah memasuki fase implementation dikarenakan tidak adanya manajemen proyek yang membatasi scope alur sistem di fase 1.

2. Area kustomisasi yang juga terus berkembang diakibatkan tidak terkontrolnya scope proyek (area kustomisasi)

3. Tingginya turn over tim proyek, khususnya programmer, pada setiap fase kustomisasi.

4. Kualitas software testing yang tidak terkoordinasi sehingga bugs dan error masih muncul pasca Go-Live.

5. Kustomisasi dilakukan tanpa perencanaan yang matang, cenderung ad-hoc dan menggunakan pendekatan extreme programming. Walaupun kompleksitas proyek yang di kustom tinggi.

6. Transfer knowledge yang buruk pada saat user training sehingga learning curve menjadi panjang. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran dan adaptasi sistem baru menjadi lama sehingga operasional terhambat.

Untuk itu, disiplin yang tinggi dalam melaksanakan kustomisasi software tentunya dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kondisi proyek akan sangat menentukan keberhasilan dari proyek kustomisasi software ini.

One Response

  1. Pak saya Roni. Mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di yogyakarta yang sedang mengerjakan skripsi. Saya mau tanya tentang Implementasi Analisis Gap dalam pembuatan sebuah website atau software. Dalam pembuatan sebuah software untuk sebuah perusahaan, jika ingin menganalisa masalah dengan menggunakan Aalisis GAP. prosedur apa saja yang harus saya lakukan. Dalam kasus ini perusahaan tersebut belum mempunyai sistem informasi. Mohon pengarahannya terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: