PEMASARAN ALA SUPIR TAKSI

Suatu ketika saat saya pulang dengan mengendarai taksi, ada hal yang menarik yang saya pelajari darinya. Kebetulan sekali saya mendapatkan supir taksi yang tidak pendiam. Awal pembicaraan saya coba memberikan informasi alamat yang akan dituju, kemudian berlanjut hingga menyinggung tentang “pemasaran”.

“Kita ke simatupang ya pak… ” saya memberikan informasi tujuan sesaat setelah saya menutup pintu

“Boleh pak. Mohon maaf, bapak ingin lewat jalan mana ya pak ? Mau lewat Tol atau lewat kuningan, atau lewat mana pak ?” Supir taksi itu memberikan pilihan

“Wah, jam segini sepertinya macet dimana-mana. Mana yang terbaik pak ?” Saya coba minta pertimbangannya
“Iya sih pak, sepertinya memang tidak banyak pilihan. Hanya pilihan yang terbaik dari semua itu menurut saya lewat Tol pak. Karena walaupun jarak tidak jauh berbeda, tapi waktu tempuh lebih cepat lewat Tol menurut saya pak. Hanya memang ada biaya tol. Tapi terserah bapak, saya kembalikan ke bapak” Supir itu memberikan beberapa pilihan (dan bahkan analisis menurut saya).

“Hmmm… Kalau menurut bapak, selain masalah waktu tempuh lebih cepat, mengapa bapak memberikan saran untuk lewat Tol” tanya saya kembali

“Wah, maaf ini pak. Hanya berdasarkan pengalaman saya beberapa kali mengantar tamu (penumpang) ke tempat tujuan bapak di jam segini, biaya argo + tol ketika lewat Tol jauh lebih murah dibanding biaya argo jika lewat kuningan. Beberapa hari yang lalu saya sempat 2 (dua) kali mengantar tamu ke daerah ampera dan kemang, dan tamu memilih lewat kuningan. Kemarin, ada tamu juga yang meminta saya mengantarkan ke daerah cilandak dan ia memilih lewat Tol. Perbandingan argo keduanya cukup jauh pak, mencapai Rp. 30.000. Bahkan perbandingan dengan tamu yang saya antar ke kemang berbeda hampir dua kali lipatnya pak, sebab ada demonstrasi yang menyebabkan macet total di daerah kuningan. Walaupun saya juga tidak dapat memastikan lalu lintas di Tol pasti selancar beberapa hari yang lalu. Tapi biasanya sih pak kalau hari rabu tidak terlalu macet” Ia coba memberikan penjelasan.

Sejenak saya terdiam dan coba memikirkan analisis yang diberikan supir taksi tadi. Penjelasan yang ia berikan cukup rasional berdasarkan pengalamannya mengantar tamu ke alamat yang tidak jauh berbeda dengan alamat yang saya tuju. Terbesit kekaguman dari hati saya kepada supir tadi bahwa dengan keterbatasa pendidikannya, ia mampu menjelaskan sesuatu secara sistematis, yang jarang dapat dilakukan oleh supir taksi lain

“Baiklah pak, kita lewat Tol aja kalau gitu” Saya memberikan keputusan

“Baik pak….” Ia menjawab

Tak beberapa lama kemudian, supir taksi itu kembali membuka pembicaraan.

“Alhamdulillah ini pak, hari ini saya dapet penumpang yang jaraknya jauh-jauh” Ia coba bercerita

“Wah, alhamdulillah pak… Jadi habis ini langsung pulang dong ?” tanya saya

“Ia pak…. Tapi itu juga rejeki-rejekian pak… Minggu lalu saya banyak dapat penumpang yang jaraknya pendek-pendek.”

“Berarti sangat bergantung sama nasib ya pak ?” saya coba membalas

“Enggak juga sih pak. Ada teman saya yang nariknya sangat disiplin setiap hari. Kalau keluar pool itu jam 5 ya jam 5 dia keluar dan kembali jam 5 lagi yang sebelum jam 5 dia sudah ada di pool. Gak pernah dia nyolong start atau pulang terlambat” Ia melanjutkan cerita

“Berati teman bapak itu lebih mengutamakan ketepatan waktu daripada setoran. Trus kalau setoran belum komplit gimana dong ?” saya kembali bertanya

“Nah, itu hebatnya dia pak. Dia itu setorannya selalu penuh, bahkan penghasilan dia jauh lebih besar daripada saya walaupun lamanya waktu narik lebih sebentar dari saya” Ia menjelaskan

“Kok bisa gitu pak ?” saya mulai penasaran

“Awalnya saya juga gak percaya pak. Pernah saya tanya dan ia menjelaskan rahasianya kepada saya, nah itu yang saya coba praktekkan sekarang pak… hehehe.. ” ia tersenyum sembari terus semangat bercerita

“Apa tuh rahasianya pak ?” tanya saya

“Nah, teman saya ini sama dengan saya yaitu sudah narik taksi selama 5 tahun. Tapi bedanya dia sudah punya rumah dan kendaraan sendiri, sementara saya belum. Temen saya bilang, waktu awal dia narik juga dia mengalami masalah yang sama dengan supir taksi pada umumnya. Trus dia coba untuk belajar gimana caranya dapat tamu terus setiap hari secara rutin. Kata dia, kuncinya adalah bagaimana bisa memuaskan tamu yang kita antar. Jadi ada beberapa langkah yang dia lakukan pak. Pertama, pada satu minggu pertama dia khusus muterin Jabodetabek untuk menghapalkan jalan dan mencatat pada titik mana saja, hari apa dan jam berapa biasanya calon tamu menunggu taksi. Memang selama seminggu itu dia sedikit berkorban dengan mendapatkan penghasilan pas-pasan dengan waktu narik yang lebih lama. Selain melihat titik mana saja calon tamu tadi menunggu taksi, waktu semingu ini juga dia gunakan untuk menghapal jalan-jalan di Jakarta, khususnya jalan alternatif serta titik-titik kemacetan termasuk daerah-daerah rawan….” Ia menjelaskan panjang lebar

“Terus.. setelah itu apa yang dia lakukan pak?” Sepertinya mulai menarik penjelasan supir taksi ini

“Lantas, dia tinggal muter di tempat rame sesuai hasil muter dia seminggu kemarin…. Jam dapat dimanfaatkan maksimal, hasil juga maksimal pak….” Supir taksi itu tertawa kecil

Menarik jika kita melihat cerita diatas, dimana pada intinya semua orang pasti mengalami proses pemasaran, baik skala kecil maupun skala besar. Apa yang dilakukan teman supir taksi tadi sebenarnya menyadarkan kita bahwa pemasaran itu sebenarnya mudah. Satu minggu pertama ia korbankan untuk muterin Jakarta, dimana sebenarnya ia melakukan market survey. Ia melihat titik-titik tertentu sebagai potensi pasar yang bisa digarapnya, dan fokus pada potensi pasar tersebut.Pengorbanan yang ia lakukan berupa kerugian karena harus nombok setoran merupakan marketing cost yang dikeluarkan sebagai investasi. Lantas, teman supir taksi tersebut juga mencoba menerapkan customer value proposition yaitu menyediakan alternatif jalan dengan berbagai konsekuensinya (macet tapi dekat, atau jauh tapi travel time lebih cepat). Selain itu, ia juga mencoba menerapkan operational excellence dengan menghapal jalan, sehingga penumpang tidak kecewa karena harus menunjukkan jalan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: