“Pernah berjaya” dan “tetap berjaya” – pentingnya mempertahankan keunggulan kompetitif

Saya dan keluarga menghabiskan waktu merayakan Idul Adha selama 1 (satu) minggu di kampung halaman ayah saya, Magelang. Sebelum menuju Magelang, saya menyempatkan diri untuk “liburan” bersama keluarga kecil saya di Yogyakarta. Kami menginap di salah satu hotel di kawasan Palagan Tentara Pelajar, Yogyakarta. Hotel ini merupakan impian saya semenjak saya kuliah di Yogyakarta belasan tahun yang lalu. Terbayang bagaimana “kemewahan” yang ditawarkan berupa nuansa alami pedesaan yang dipadukan dengan layanan hotel berbintang akan menjadikan siapapun yang tinggal disana merasa nyaman. Memang sih, harga per malam yang relatif tinggi untuk ukuran Yogyakarta, namun saya merasakan uang yang saya keluarkan sangat sesuai dengan harapan saya terhadap fasilitas dan layanan yang diberikan. Saya tetap dapat menikmati “suasana Yogya” dengan segala keramahannya di dalam hotel, persis seperti belasan tahun yang lalu ketika Kota Yogya belum banyak berubah. Selain itu, lingkungan hotel yang asri, alami dan tertata dengan baik membuat saya enggan untuk berlama-lama keluar meninggalkan hotel. Anak saya dapat bermain dengan riang mengelilingi area hotel, sambil sesekali menikmati andong khas Yogya yang memang disediakan gratis untuk tamu. Bahkan ketika datang, saya sama sekali tidak berada di meja reception untuk check-in. Semua dilakukan oleh petugas hotel yang memang sudah menunggu kedatangan saya, sementara saya menikmati welcome drink di lounge yang telah disediakan. Maka tak heran, walaupun banyak bermunculan hotel-hotel di sekitarnya (bahkan di kota Yogya), namun hotel ini tidak kehilangan pelanggan setianya. Perpaduan antara layanan profesional dan modern dengan nuansa alami Yogya menjadikan keunggulan kompetitif hotel ini sulit disaingi oleh kompetitor, baik hotel baru maupun hotel sekelas lainnya yang telah lama ada. Jika hotel lain banyak menyajikan keunggulan di harga atau fasilitas kamar, maka hotel ini berupaya menciptakan keunikan yang sulit ditemui di hotel lainnya. Hasilnya, berdasarkan pengamatan saya, hotel ini tetap bertahan sebagai salah satu hotel terbaik di Yogyakarta.

Selama di Yogyakarta, saya menyempatkan untuk mengikuti Lava Tour Merapi, suatu paket wisata mengelilingi desa yang terkena bencana gunung merapi tahun 2010. Terakhir saya mengikuti tour ini pada tahun 2011, dimana fasilitas tour masih seadanya dengan harga yang cukup mahal bahkan untuk ukuran Jakarta. Tidak ada yang spesial dalam tour ini saat itu, kecuali mengambil gambar gunung Merapi dari jarak dekat. Namun akhir September 2015 kemarin, ketika saya mengikuti tour yang sama, saya terkesima dengan banyaknya perubahan yang dilakukan, khususnya dalam penawaran paket wisata. Selain harga yang jauh lebih murah, penyelenggara tour (yang merupakan masyarakat desa sekitar) juga menyajikan berbagai paket wisata dengan harga yang variatif tergantung paket yang dipilih. Wisatawan yang berkunjungpun semakin banyak, dan berasal dari berbagai negara di Asia maupun Eropa. Tak heran jika 4 tahun yang lalu hanya terdapat 1 basecamp, saat ini telah terdapat beberapa basecamp yang terkoordinir dengan baik, dengan tarif dan paket layanan yang seragam. Bahkan secara perlahan, wisata ini telah mampu menjadi icon wisata di Yogyakarta. Tentunya berkembangnya wisata ini akan turut serta dalam mengembangkan ekonomi masyarakat sekitar, baik sebagai EO maupun penjual souvenir dan makanan. Perjalanan menyusuri kaki gunung merapi yang sebelumnya membosankan telah berhasil disulap menjadi paket perjalanan yang menantang dan penuh petualangan yang mengasyikkan. Bencana Merapi yang dialami masyarakat sekitar menjadi berkah dan bahkan mampu mengangkat budaya lokal hingga ke mancanegara.

Setelah selesai mengikuti lava tour, saya berhenti di suatu rumah makan favorit saya – paling tidak sampai beberapa tahun yang lalu. Rumah makan ini menyajikan makanan yang enak, variatif dengan tempat makan berupa saung diatas kolam ikan dan dikelilingi oleh sawah. Suasananya sejuk dan damai, sehingga mampu menambah kenikmatan makan. Namun saya terkejut ketika melihat rumah makan ini minggu lalu. Saung yang sudah tidak terawat dengan kolam ikan yang kotor serta suasana sawah yang tidak lagi asri. Banyak menu yang tertulis namun tidak tersedia dengan alasan habis. Puluhan saung yang adapun hanya terisi 1 atau 2 saja. Rumah makan yang biasanya selalu ramai ini seolah menjadi “prasasti” yang menggambarkan sisa masa kejayannya. Saya sempat bertanya kepada beberapa pelayana mengapa ini semua bisa terjadi, dan mereka menjawab hal ini terjadi karena semakin lama semakin sedikigt pelanggan yang datang. Penyebabnya adalah tidak adanya inovasi menu maupun layanan yang diberikan sehingga pelanggan menjadi jenuh. Terlebih lagi adanya beberapa rumah makan baru yang bermunculan menyebabkan pelanggan mereka pindah ke kompetitor. Rasa makananpun berubah, tidak seenak dulu. Sehingga kelezatan hidangan dan kenyamanan suasana rumah makan tidak saya dapatkan sesuai harapan saya. Sebelum saya pulang, saya sempat melihat suasana dapur yang sepi dari aktifitas. Terlihat beberapa koki saling berbincang dan bercanda santai di sisi dapur. Saya sangat menyayangkan hal ini, mengingat rumah makan ini pernah berjaya beberapa belas tahun yang lalu dan selalu menjadi pilihan wisatawan untuk bersantap siang maupun malam.

Setelah menghabiskan 3 hari di Yogyakarta, saya beranjak ke Magelang. Disana saya menginap di salah satu hotel yang menyediakan kamar dengan pemandangan gunung dan sawah yang menarik. Selain itu, lokasi kamar yang berbukit juga mampu menjadi daya tarik wisatawan, dimana hal ini pernah menjadi keunggulan kompetitif hotel tersebut. Namun saya terkesima ketika merasakan pelayanan di hotel ini. Suasana alami tidak lagi saya temukan disana. Justru kesan seram yang saya dapatkan hingga anak dan istri saya tidak bisa tidur nyenyak pada malam pertama kami bermalam disana. Suasana alami tak ubahnya seperti “kebun binatang” mini, dimana laba-laba besar, semut dan kecoak kecil hilir kami jumpai di kamar mandi maupun di kamar tidur. Setiap malam saya selalu cemas akan ganggungan binatang tersebut, apalagi jika membayangkan kalau binatang tersebut sampai menggigit anak saya yang baru berusia 2 tahun. Hotel ini memang masih cukup ramai, namun tidak seramai 4 tahun yang lalu ketika saya berkunjung kesini. Tak banyak yang dapat saya sampaikan kepada customer care hotel ini, karena saya tidak memiliki rencana lagi untuk menginap disini. Hotel yang dulu berjaya dan terkenal di Magelang namun dengan harga dan pelayanan seperti ini, menurut saya akan sulit untuk bersaing dengan hotel-hotel baru yang modern dan tentunya bebas dari gangguan binatang.

“Pernah berjaya” atau “masih berjaya” memang merupakan pilihan manajemen organisasi, apakah masih ingin terus melanjutkan kejayaannya dengan membangun inovasi dalam membentuk keunggulan kompetitif, atau pasrah dengan perubahan yang terjadi. Intinya, mempertahankan keunggulan kompetitif bukanlah pekerjaan yang mudah.  Tidak ada keunggulan kompetitif yang abadi, seiring berubahnya lingkungan dan kebutuhan pelanggan. Sehingga memperbaharui keunggulan kompetitif menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam memenangkan persaingan saat ini maupun di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: